Polda Jatim Tertibkan 70 Satpam Empat Perusahaan di Surabaya dan Gresik Yang Langgar Aturan

SURABAYA, – Polda Jatim menertibkan 70 tenaga Satuan Pengamanan (Satpam) empat perusahaan yang ada di Surabaya dan Gresik. Pasalnya, puluhan tenaga pengamanan tersebut, dianggap melanggar aturan tentang Sistem Manajemen Pengamanan, sehingga dianggap ilegal.

Empat perusahaan yang memakai jasa Satpam ilegal tersebut antara lain, LM, PT HE dan AA, yang berlokasi di Surabaya. Serta PT REMS, sebuah industri farmasi yang berada di Gresik.

Kasubdit Binsatpampolsus Ditbinmas Polda Jatim, AKBP Elijas Hendrajana mengatakan, anggotanya mendapati puluhan Satpam yang tidak mengantongi Kartu Tanda Anggota (KTA) sesuai Perkap nomor 24 tahun 2007 di empat perusahaan.

“Mereka masih tidak memiliki legalitas, mereka menggunakan seragam Satpam tapi tidak memiliki KTA. Jadi tidak sesuai aturan yang berlaku,” ujar Elijas di kantornya, Senin (26/8/2019).

Karenanya, untuk sementara, pihak kepolisian menertibkan para tenaga Satpam, dengan menyita seragam maupun alat pendukung lainnya.

Selain itu, kata Elijas, pihaknya juga akan memanggil Badan Usaha Jasa Pengaman (BUJP) serta perusahaan yang kedapatan memakai jasa Satpam ilegal.

“Kita akan memanggil, baik pihak BUJP maupun para user (perusahaan) untuk datang ke kantor. Jadi kita sempat ambil sementara pakaian seragamnya, dan yang belum memiliki KTA dibawa ke kantor. Selanjutnya, kita akan panggil mereka supaya mereka mengerti aturan yang ada,” urainya.

Apabila pihak BUJP tidak mengindahkan teguran ini. Polisi mengancam akan menghentikan ijin operasional badan tersebut. Termasuk kepada perusahaan yang bersangkutan, sehingga tidak bisa menggunakan jasa pengaman di wilayah kerja mereka, hingga ketentuan dipenuhi.

Elijas berharap, BUJP dan perusahaan-perusahaan segera memenuhi aturan yang berlaku. Sebab, dengan tertib administrasi, maka kinerja Satpam sebagai tenaga pengaman suatu lingkungan kerja memperoleh perlindungan hukum.

“Supaya Satpam ini ada payung hukumnya,” tutup Elijas.

Sekuriti di Tangerang Tewas Usai Coba Jinakkan Ular dengan Sapu Lidi

TANGERANG – Seorang petugas sekuriti bernama Iskandar, tewas usai dipatuk ular Welang yang hendak ditangkapnya di Cluster Michelia Gading Serpong, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, bisa ular terlanjur menjalar ke bagian jantung hingga nyawanya tak tertolong.

Berdasarkan keterangan tertulis Berita Acara Pelaporan (BAP) pengurus Cluster Michelia disebutkan, peristiwa bermula saat salah satu warga di Cluster Michelia 8 Nomor 2 mendapati ular di area taman kediamannya pada Selasa 20 Agustus 2019 sekira pukul 18.30 WIB. Karena tak memiliki peralatan, sontak hal itu dilaporkan ke petugas sekuriti setempat.

Tak lama, datang 2 petugas sekuriti Iskandar dan Jaelani. Keduanya datang membawa tongkat berupa gagang sapu lidi guna menjinakkan ular tersebut. Iskandar langsung menjepit kepala ular dengan tongkat, dan salah satu tangannya berupaya memegang kepala ular.

Namun tak disangka, pegangan jari tangan Iskandar nampak tak terlalu kuat, sehingga dengan mudah ular Welang bisa mematuk jari telunjuk tangan kirinya. Spontan Iskandar melepas ular, dan menghisap jari telunjuknya guna mengeluarkan bisa akibat patukan ular.

Ular akhirnya berhasil dijinakkan oleh petugas sekuriti Jaelani. Meski begitu, Iskandar mulai merasakan reaksi racun bisa menjalar ke bagian tubuhnya. Sekira pukul 19.00 WIB, Iskandar akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Bethsaida untuk perawatan.

Rupanya, di RS Bethsaida serum anti bisa belum tersedia. Sehingga pada pukul 19.30 WIB, Iskandar dipindahkan ke RSU Kabupaten Tangerang. Dia ditemani pula oleh pengurus lingkungan Cluster Michelia. Di sana, Iskandar telah diberi serum anti bisa.

Namun beberapa waktu kemudian, Iskandar mengalami kejang dan sesak nafas. Hingga pada akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Kamis pukul 04.30 WIB. Kondisi terakhir terlihat Iskandar masih mengenakan seragam dinas sekuriti berwarna putih.

Kasatreskrim Polres Tangsel, AKP Muharam Wibisono Adipradono membenarkan adanya kejadian tersebut di wilayah Cluster Michelia. Namun Muharam enggan membeberkan lebih lanjut tentang penanganan korban menggunakan serum anti bisa yang ternyata tetap tak mampu menolong nyawanya.

“Iya, ada kejadian itu,” singkatnya.

MUSYAWARAH NASIONAL (MUNAS) KE 3 ABUJAPI

MUNAS ke 3 ABUJAPI telah sukses dilaksanakan pada tanggal 17-18 Juli 2019 di Hotel Gumaya Tower Semarag Jawa Tengah dan dibuka oleh Komjen Pol. Drs. Condro Kirono, MM, M.Hum sebagai Kepala Badan Pemelihara Keamanan Kepolisian Negara Republik Indonesia (KABAHARKAM POLRI). 
MUNAS kali ini mengusung tema “Melalui MUNAS 3 ABUJAPI, Kita Perkuat Hubungan Kelembagaan Dalam Upaya Pengembangan Industrial Security Di Indonesia”. Dihadiri oleh Ketua Umum BPD ABUJAPI Se-Indonesia yaitu 22 Badan Pengurus Daerah dan 4 Perwakilan ABUJAPI Daerah (Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, dan Maluku).
Sebagai amanah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ABUJAPI, pemilihan Ketua Umum BPP ABUJAPI dilaksanakan 5 tahun sekali. Untuk masa bakti 2019-2024 terpilihnya Agoes Dermawan sebagai Ketua Umum BPP ABUJAPI masa bakti 2019-2024 dari 22 suara, Agoes Dermawan memperoleh 12 suara peserta BPD dari Seluruh Indonesia.
Agoes Dermawan menuturkan “ABUJAPI harus kuat dan bermartabat, itulah moto saya. Kalau kita kuat dan bermartabat maka satpam akan sejahtera,”.